================================================================================ hukum.live - STATUTORY LAWS & REGULATIONS LOOKUP ================================================================================ INQUIRY / PERTANYAAN: Pasal 1338 KUHPerdata CATEGORY / BIDANG HUKUM: Corporate & Investment TARGET COMPARISON LANGUAGE: English DATE / TANGGAL: 05 November 2026, 07:19 WIB PERMANENT URL: https://hukum.live/laws/lookup/pasal-1338-kuhperdata-2/ ================================================================================ -------------------------------------------------------------------------------- 1. ANALISIS HUKUM & PASAL TERKAIT (BAHASA INDONESIA) -------------------------------------------------------------------------------- ### ANALISIS HUKUM & PASAL TERKAIT (BAHASA INDONESIA) #### 1. Teks Otentik dan Terjemahan Statuter: Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata / *Burgerlijk Wetboek*) * **Pasal 1338 ayat (1):** > *"Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya."* * **Pasal 1338 ayat (2):** > *"Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang."* * **Pasal 1338 ayat (3):** > *"Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik."* --- #### 2. Doktrin dan Asas-Asas Hukum Utama Pasal 1338 KUHPerdata merupakan norma fundamental dalam hukum perikatan dan hukum kontrak Indonesia yang memuat empat asas utama: 1. **Asas Kebebasan Berkontrak (*Party Autonomy / Freedom of Contract*) — Ayat (1):** Para pihak memiliki kebebasan untuk: * Menentukan apakah akan membuat atau tidak membuat perjanjian; * Memilih dengan siapa perjanjian diadakan; * Menentukan isi, bentuk, klausul, serta syarat-syarat perjanjian. Namun, kebebasan ini dibatasi oleh frasa *"dibuat sesuai dengan undang-undang"*, yang merujuk pada pemenuhan syarat sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPerdata serta larangan klausul yang melanggar ketertiban umum dan kesusilaan (Pasal 1337 KUHPerdata). 2. **Asas Kepastian Hukum (*Pacta Sunt Servanda*) — Ayat (1):** Kontrak yang sah memiliki kekuatan mengikat layaknya undang-undang (*legally binding*) bagi para pihak yang menandatanganinya. Hakim atau pihak ketiga wajib menghormati substansi kontrak dan dilarang mengintervensi isi kontrak selama kontrak tersebut sah. 3. **Asas Konsensualisme dan Larangan Pembatalan Sepihak (*Irrevocability*) — Ayat (2):** Suatu perikatan yang lahir dari kesepakatan tidak dapat dibatalkan, diubah, atau dihentikan secara sepihak (*unilateral termination*), kecuali disepakati bersama secara mutlak (*mutual consent*) atau didasarkan pada alasan yang secara tegas diizinkan oleh undang-undang (misalnya wanprestasi berdasarkan Pasal 1266 KUHPerdata atau pemutusan atas perintah undang-undang khusus). 4. **Asas Itikad Baik (*Good Faith / Te Goeder Trouw*) — Ayat (3):** Pelaksanaan kontrak harus mengacu pada: * **Itikad baik subjektif:** Kejujuran batin dan integritas moral saat perumusan dan pelaksanaan. * **Itikad baik objektif:** Kepatutan, kewajaran, dan kelayakan (*reasonableness and fairness*) dalam melaksanakan hak dan kewajiban kontraktual, sejalan dengan ketentuan Pasal 1339 KUHPerdata. --- #### 3. Keterkaitan Sistemik dengan Ketentuan Hukum Lain * **Pasal 1320 KUHPerdata (Syarat Sahnya Perjanjian):** Keberlakuan asas *pacta sunt servanda* dalam Pasal 1338 ayat (1) mutlak mensyaratkan terpenuhinya empat syarat kumulatif: (1) kesepakatan para pihak, (2) kecakapan bertindak, (3) suatu pokok persoalan tertentu, dan (4) suatu sebab yang tidak terlarang (*geoorloofde oorzaak*). Jika syarat sebab yang halal dilanggar, perjanjian batal demi hukum (*null and void*). * **Pasal 1335 jo. 1337 KUHPerdata (Kausalitas Terlarang):** Perjanjian tanpa sebab, atau dibuat berdasarkan sebab yang palsu atau terlarang (bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, atau ketertiban umum), tidak memiliki kekuatan hukum. * **Pasal 1339 KUHPerdata (Pelengkap Kepatutan dan Kebiasaan):** Perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau undang-undang. * **Pasal 1266 dan 1267 KUHPerdata (Syarat Batal dan Wanprestasi):** Pembatalan kontrak akibat wanprestasi (*breach of contract*) pada prinsipnya harus dimintakan kepada pengadilan, kecuali para pihak secara tegas mengesampingkan keberlakuan Pasal 1266 ayat (2) KUHPerdata. --- #### 4. Hak dan Kewajiban Para Pihak * **Hak:** * Menuntut pemenuhan prestasi (memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu) sesuai klausul kontrak. * Menuntut ganti rugi (*damages*), pembatalan kontrak, atau kompensasi bunga/denda bila terjadi wanprestasi (Pasal 1243–1244 KUHPerdata). * **Kewajiban:** * Melaksanakan kewajiban kontraktual secara tepat waktu, tuntas, dan beritikad baik. * Menahan diri dari tindakan pemutusan sepihak tanpa dasar kontraktual atau hukum yang sah. --- #### 5. Panduan Praktis Kepatuhan & Perancangan Kontrak (*Legal Drafting Guidance*) 1. **Penyusunan Klausul Pengakhiran (*Termination Clause*):** Cantumkan mekanisme pengakhiran kontrak yang terperinci (misalnya: *default events*, masa perbaikan/cure period). Cantumkan klausul pengesampingan tegas terhadap Pasal 1266 ayat (2) KUHPerdata guna menghindari keharusan putusan pengadilan dalam memutus kontrak. 2. **Uji Keabsahan Klausul Eksonerasi/Eksepsi:** Hindari klausul pembatasan tanggung jawab (*exemption clause*) yang berlebihan atau sepihak, karena berisiko dibatalkan oleh pengadilan atas dasar pelanggaran asas itikad baik objektif atau doktrin penyalahgunaan keadaan (*undue influence / misbruik van omstandigheden*). 3. **Klausul Keadaan Kahar (*Force Majeure*):** Rumuskan batasan keadaan kahar secara eksplisit untuk mencegah klaim sepihak atas pembatalan atau penundaan kewajiban tanpa dasar obyektif. -------------------------------------------------------------------------------- 2. PARALLEL STATUTORY ANALYSIS & TRANSLATION (ENGLISH) -------------------------------------------------------------------------------- ### LEGAL ANALYSIS & STATUTORY PROVISIONS (ENGLISH) #### 1. Authentic Statutory Text and Translation: Article 1338 Indonesian Civil Code (*Kitab Undang-Undang Hukum Perdata / KUHPerdata*) * **Article 1338 paragraph (1):** > *"All legally executed agreements shall bind the parties as law."* * **Article 1338 paragraph (2):** > *"Such agreements cannot be revoked other than by mutual consent of both parties, or for reasons established by statutory law."* * **Article 1338 paragraph (3):** > *"Agreements must be executed in good faith."* --- #### 2. Legal Doctrines and Core Principles Article 1338 of the Indonesian Civil Code serves as the cornerstone of Indonesian contract and obligations law, embodying four cardinal doctrines: 1. **Freedom of Contract (*Party Autonomy*) — Paragraph (1):** Parties possess the legal autonomy to: * Decide whether or not to enter into an agreement; * Select the counterparty with whom to contract; * Determine the content, form, covenants, and terms of the agreement. However, this autonomy is bounded by the phrase *"legally executed"* (*dibuat sesuai dengan undang-undang*), which demands full compliance with the validity requirements under Article 1320 of the Civil Code and non-contravention of public policy and morality (Article 1337). 2. **The Principle of *Pacta Sunt Servanda* — Paragraph (1):** A valid contract has the equivalent force of statutory law (*lex contractus*) between the contracting parties. Courts and third parties are obligated to respect the terms agreed upon and must refrain from interfering with the terms of the contract as long as it remains valid. 3. **Consensualism and Irrevocability — Paragraph (2):** An obligation established by agreement cannot be unilaterally terminated, amended, or revoked. Rescission requires either mutual consensus of all signatories (*mutuo dissensu*) or explicit statutory authorization (such as default pursuant to Article 1266 or statutory termination triggers). 4. **The Principle of Good Faith (*Bona Fides / Te Goeder Trouw*) — Paragraph (3):** Contractual performance is governed by two dimensions of good faith: * **Subjective Good Faith:** Honesty, subjective intent, and integrity during formation and execution. * **Objective Good Faith:** Reasonableness, equity, and fairness (*redelijkheid en billijkheid*) in exercising contractual rights and discharging obligations, read in conjunction with Article 1339. --- #### 3. Interrelation with Other Statutory Provisions * **Article 1320 of the Civil Code (Conditions for Contractual Validity):** The operation of *pacta sunt servanda* under Article 1338(1) is conditioned upon satisfying four cumulative criteria: (1) mutual consent, (2) legal capacity to contract, (3) a specific subject matter, and (4) a lawful cause (*geoorloofde oorzaak*). Contracts lacking a lawful cause are void *ab initio*. * **Articles 1335 & 1337 of the Civil Code (Unlawful Cause):** Agreements entered into without a cause, or grounded upon a false or unlawful cause (contrary to statutory law, public order, or good morals), hold no legal effect. * **Article 1339 of the Civil Code (Custom, Equity, and Supplementary Law):** Contracts bind the parties not only to what is expressly stipulated, but also to all implications dictated by equity (*kepatutan*), custom (*kebiasaan*), or statutory provisions governing the nature of the transaction. * **Articles 1266 & 1267 of the Civil Code (Dissolution and Breach):** Contractual rescission due to breach (*wanprestasi*) fundamentally requires judicial intervention through a court order, unless the parties expressly waive the applicability of the second paragraph of Article 1266. --- #### 4. Rights and Obligations of the Parties * **Rights:** * The right to claim performance/covenant compliance (to deliver, to do, or to abstain from doing) pursuant to contractual terms. * The right to claim compensatory damages, liquidated damages, default interest, or judicial rescission upon default (Articles 1243–1244 of the Civil Code). * **Obligations:** * To strictly, timely, and fully perform contractual duties in accordance with the standard of objective good faith. * To refrain from unlawful unilateral repudiation, termination, or suspension of performance. --- #### 5. Practical Compliance & Legal Drafting Guidance 1. **Explicit Termination Clauses:** Formulate clear termination provisions (specifying events of default, notice requirements, and cure periods). Incorporate an express waiver of Article 1266 paragraph (2) of the Indonesian Civil Code to effectuate out-of-court, immediate contractual termination upon occurrence of default. 2. **Review of Exculpatory/Exemption Clauses:** Avoid grossly disproportionate limitation of liability or indemnification carve-outs. Indonesian courts may nullify one-sided exculpatory clauses on grounds of violating objective good faith or under the doctrine of abuse of circumstances / undue influence (*misbruik van omstandigheden*). 3. **Drafting Comprehensive Force Majeure Clauses:** Standardize precise definitions and procedural notices of *force majeure* to prevent parties from asserting unwarranted unilateral claims of non-performance under economic or market distress. ================================================================================ Disclaimer: Generated by hukum.live for educational and statutory guidance purposes. ================================================================================