KUHPerdata (Burgerlijk Wetboek)
成文法典 (民法典 / 刑法典 / 商法典)
民刑法典修订与最新法案
Indonesian Civil Code (KUHPerdata) - Book III on Obligations and Contracts
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) - Buku III tentang Perikatan
Comparison Language Choice:
English
🇮🇩
Bahasa Indonesia (Naskah Asli)
Ringkasan Eksekutif & Asas Pokok:
Landasan fundamental hukum perdata dan kontrak di Indonesia. Mengatur empat syarat sahnya perjanjian (), asas kebebasan berkontrak dan pacta sunt servanda (), wanprestasi (), dan perbuatan melawan hukum ().
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata () Buku III mengatur tentang Hukum Perikatan yang timbul dari perjanjian maupun undang-undang.
Asas-asas Pokok Hukum Kontrak Indonesia:
1. **Asas Kebebasan Berkontrak (Party Autonomy / Beginsel der Contractsvrijheid):** Para pihak bebas menentukan isi, bentuk, dan syarat perjanjian sepanjang tidak melanggar undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan.
2. **Asas Konsensualisme:** Perjanjian lahir seketika saat tercapainya kesepakatan antara para pihak ( angka 1).
3. **Asas Pacta Sunt Servanda ( ayat 1):** Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
4. **Asas Itikad Baik (Goede Trouw / ayat 3):** Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik (kepatutan dan kepantasan).
5. **Asas Kepribadian (Privity of Contract / & 1340):** Perjanjian hanya mengikat pihak-pihak yang membuatnya.
🇬🇧
English Translation & Analysis
Executive Summary & Legal Significance:
The foundational statutory pillar of Indonesian contract and obligations law. Establishes the four mandatory validity requirements of agreements (), pacta sunt servanda and good faith enforcement (), contractual default remedies (), and tortious liability / PMH ().
Book III of the Indonesian Civil Code () governs the Law of Obligations arising either from contracts or by operation of law.
Core Doctrinal Pillars of Indonesian Contract Law:
1. **Freedom of Contract (Party Autonomy):** Parties are legally entitled to agree on any terms, provided they do not contravene statutory prohibitions, public order, or morality.
2. **Consensualism:** An agreement is legally formed upon the mutual meeting of minds (.
3. **Pacta Sunt Servanda (:** All agreements validly executed shall serve as binding law between the contracting parties.
4. **Good Faith Performance (:** Contracts must be executed in good faith, adhering to standards of equity, fairness, and commercial reasonableness.
5. **Privity of Contract ( & 1340):** An agreement creates rights and obligations solely between the executing parties.
Parallel Article-by-Article Comparison
Statutory provisions aligned side-by-side for legal certainty
Four Validity Conditions for Agreements
🇮🇩 Bahasa Indonesia
Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat:
1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu pokok persoalan tertentu (objek tertentu);
4. Suatu sebab yang tidak terlarang (causa yang halal).
🇬🇧 English
In order for an agreement to be legally valid, four conditions must be satisfied:
1. The mutual consent of those who bind themselves;
2. Legal capacity to enter into an obligation;
3. A specific, ascertainable subject matter (certain object);
4. A lawful cause (non-prohibited legal purpose).
Pacta Sunt Servanda and Good Faith Enforcement
🇮🇩 Bahasa Indonesia
(1) Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
(2) Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang.
(3) Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.
🇬🇧 English
(1) All agreements legally formed shall apply as statutory law for those who make them.
(2) They cannot be revoked other than by mutual consent of both parties, or for reasons established by statute.
(3) Agreements must be performed in good faith.
Damages and Compensation for Contractual Default
🇮🇩 Bahasa Indonesia
Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.
🇬🇧 English
Compensation for expenses, damages, and interest due to non-fulfillment of an obligation becomes mandatory when the debtor, despite formal notice of default (somasi), remains in breach, or if the performance was subject to a time limit that has expired.
Tortious Liability (Unlawful Act / PMH)
🇮🇩 Bahasa Indonesia
Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.
🇬🇧 English
Every unlawful act that causes damage to another person obliges the party through whose fault the damage occurred to provide compensation for such damage.