印尼法律智能与法规中心 专为民商法务清晰度、合同效力确定性与企业投资合规而优化。
AI 驱动自动起草 • 符合 OSS-RBA 及 2021年第5号条例标准
公司法、投资与并购 Comparison: Bahasa Indonesia & English
03 Nov 2026, 13:31 WIB

Article 1320

Direct URL: https://hukum.live/laws/lookup/article-1320-1/

Parallel Side-by-Side Analysis

🇮🇩

Bahasa Indonesia (Hukum Nasional)

Rujukan Pasal & Analisis Yuridis Resmi

### ANALISIS HUKUM & PASAL TERKAIT (BAHASA INDONESIA) #### 1. Dasar Hukum Positif: Kitab Undang-Undang Hukum Perdata () menetapkan empat syarat kumulatif yang wajib dipenuhi agar suatu perjanjian/kontrak memiliki keabsahan hukum yang mengikat (*legally binding*): > *"Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat:* > *1. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;* > *2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;* > *3. suatu pokok persoalan tertentu;* > *4. suatu sebab yang tidak terlarang."* --- #### 2. Klasifikasi Doktriner dan Unsur-Unsur Keabsahan Hukum perdata Indonesia membagi keempat syarat tersebut ke dalam dua kategori yuridis: ##### A. Syarat Subjektif (Mengenai Subjek Hukum / Para Pihak) 1. **Kesepakatan Para Pihak (*Consensus / Toestemming*)** * Para pihak harus memberikan persetujuan secara bebas tanpa adanya cacat kehendak (*wilsgebreke*). * Cacat kehendak diatur dalam , yang mencakup: * Kekhilafan/kesesatan (*dwaling* – ); * Paksaan (*dwang* – –1327 ); * Penipuan (*bedrog* – ); serta * Doktrin penyalahgunaan keadaan (*misbruik van omstandigheden*) yang diakui dalam yurisprudensi Mahkamah Agung RI. 2. **Kecakapan Bertindak (*Bekwaamheid*)** * Berdasarkan , setiap orang pada dasarnya cakap, kecuali dinyatakan tidak cakap oleh undang-undang. * Pihak yang tidak cakap menurut (sebagaimana telah diselaraskan dengan jo. dan UU Perlindungan Anak) mencakup: * Anak yang belum dewasa (di bawah 18 tahun untuk perbuatan perdata tertentu); * Orang yang ditaruh di bawah pengampuan (*curatele*); * *Catatan:* Ketentuan istri di bawah perwalian suami telah dicabut oleh dan UU Perkawinan. * Untuk badan hukum (*rechtspersoon*), kecakapan direpresentasikan oleh organ yang berwenang (misalnya Direksi berdasarkan tentang Perseroan Terbatas / ) sesuai Anggaran Dasar. ##### B. Syarat Objektif (Mengenai Objek dan Kausa Perjanjian) 3. **Suatu Pokok Persoalan Tertentu (*Bepaald Onderwerp*)** * Objek perjanjian harus dapat ditentukan jenisnya dan dapat dinilai secara ekonomi ( dan 1333 ). * Objek tersebut mencakup barang yang ada saat ini maupun barang yang akan ada di kemudian hari (*res futura*), asalkan dapat diidentifikasi secara jelas. 4. **Sebab yang Tidak Terlarang / Kausa yang Halal (*Geoorloofde Oorzaak*)** * Kausa merujuk pada isi dan tujuan objektif dari perjanjian, bukan motif subjektif para pihak. * Berdasarkan dan 1337 , suatu kausa dilarang apabila: * Bertentangan dengan undang-undang yang bersifat memaksa (*dwingend recht*); * Bertentangan dengan kesusilaan yang baik (*goede zeden*); atau * Bertentangan dengan ketertiban umum (*openbare orde*). --- #### 3. Konsekuensi Yuridis atas Pelanggaran Syarat Keabsahan | Kategori Pelanggaran | Syarat yang Dilanggar | Akibat Hukum | Karakteristik Pembatalan | | :--- | :--- | :--- | :--- | | **Cacat Subjektif** | Angka 1 (Kesepakatan) atau Angka 2 (Kecakapan) | **Dapat Dibatalkan** (*vernietigbaar / voidable*) | Perjanjian tetap sah dan mengikat para pihak sampai salah satu pihak yang dirugikan/wali mengajukan gugatan pembatalan ke Pengadilan Negeri. Batas waktu daluwarsa gugatan adalah 5 tahun (). | | **Cacat Objektif** | Angka 3 (Objek Tertentu) atau Angka 4 (Kausa Halal) | **Batal Demi Hukum** (*nietig / null and void ab initio*) | Sejak awal perjanjian dianggap tidak pernah ada (*never existed*). Tidak memerlukan pembatalan oleh hakim untuk meniadakan perikatan, dan para pihak tidak dapat saling menuntut pemenuhan prestasi atas dasar kontrak tersebut. | --- #### 4. Panduan Mitigasi Risiko & Kepatuhan Praktis Kontraktual 1. **Uji Tuntas Kapasitas Korporasi (*Legal Due Diligence on Authority*):** * Verifikasi identitas pihak penandatangan, keabsahan Surat Kuasa Khusus, atau Surat Keputusan Pengangkatan Direksi. * Periksa Anggaran Dasar terakhir untuk memastikan batasan wewenang (*limitation of authority*) dan pemenuhan persetujuan organ lain (misal: Persetujuan Dewan Komisaris atau RUPS berdasarkan ). 2. **Ketiadaan Tekanan dan Cacat Kehendak:** * Masukkan klausul representasi dan jaminan (*representations and warranties*) yang menyatakan bahwa masing-masing pihak menandatangani kontrak secara sukarela dan tanpa tekanan atau pengaruh yang tidak semestinya. 3. **Spesifikasi Objek secara Rigor:** * Rumuskan ruang lingkup pekerjaan (*Scope of Work*), spesifikasi teknis barang/jasa, serta harga dan jadwal penyerahan secara eksplisit guna menghindari ambiguitas objek perjanjian. 4. **Pemeriksaan Kepatuhan terhadap Ketertiban Umum:** * Pastikan substansi perjanjian tidak melanggar ketentuan hukum Indonesia yang bersifat imperatif (misalnya: kewajiban penggunaan Bahasa Indonesia berdasarkan dan kewajiban transaksi menggunakan Rupiah berdasarkan UU Mata Uang No. 7 Tahun 2011).
🇬🇧

English Legal Analysis & Statutory Codification

Parallel Comparative Translation & Compliance Notes

### LEGAL ANALYSIS & STATUTORY PROVISIONS (ENGLISH) #### 1. Statutory Foundation: () ( / *Burgerlijk Wetboek*) sets forth the four cumulative requirements that must be met for a contract or agreement to be legally valid and binding: > *"In order to be valid, an agreement must satisfy four conditions:* > *1. the consent of those who bind themselves;* > *2. the capacity to conclude an obligation;* > *3. a specific subject matter;* > *4. a lawful cause."* --- #### 2. Doctrinal Classification and Core Legal Elements Indonesian civil jurisprudence categorizes these four requirements into two distinct legal classifications: ##### A. Subjective Requirements (Pertaining to the Contracting Parties) 1. **Mutual Consent of the Parties (*Consensus / Toestemming*)** * The parties must give their consent freely without any vitiating factors (*defects of consent* / *wilsgebreke*). * Defects of consent are governed by , which encompasses: * Mistake/Error (*dwaling* – ); * Duress/Coercion (*dwang* – Articles 1323–1327 ); * Fraud (*bedrog* – ); and * The doctrine of abuse of circumstances (*misbruik van omstandigheden*), firmly recognized through Supreme Court jurisprudence. 2. **Legal Capacity to Contract (*Bekwaamheid*)** * Pursuant to , every individual is legally capable unless declared otherwise by law. * Incapacitated persons under (as harmonized by Law No. 1/1974 as amended by Law No. 16/2019 on Marriage and the Child Protection Law) include: * Minors (individuals under 18 years of age for specific civil transactions); * Individuals placed under guardianship/conservatorship (*curatele*); * *Note:* Historical restrictions regarding married women were revoked by Supreme Court Circular Letter (SEMA) No. 3/1963 and of the Marriage Law. * For legal entities (*rechtspersoon*), capacity is exercised by authorized corporate organs (e.g., the Board of Directors pursuant to Law No. 40/2007 on Limited Liability Companies / Company Law) in accordance with the entity’s Articles of Association. ##### B. Objective Requirements (Pertaining to the Object and Purpose) 3. **A Specific/Certain Subject Matter (*Bepaald Onderwerp*)** * The object of the contract must be determinable in type and capable of economic valuation (Articles 1332 and 1333 ). * This includes existing goods as well as future goods (*res futura*), provided their nature and quantity can be ascertained. 4. **A Lawful Cause (*Geoorloofde Oorzaak*)** * "Cause" refers to the objective purpose and legal justification of the agreement, distinguished from subjective personal motives. * Pursuant to Articles 1335 and 1337 , a cause is prohibited and unlawful if it: * Violates mandatory provisions of law (*dwingend recht*); * Conflicts with public morality (*goede zeden*); or * Undermines public order/policy (*openbare orde*). --- #### 3. Legal Consequences of Non-Compliance | Category of Defect | Breached Requirement | Legal Consequence | Characteristics of Invalidation | | :--- | :--- | :--- | :--- | | **Subjective Defect** | Element 1 (Consent) or Element 2 (Capacity) | **Voidable** (*vernietigbaar*) | The contract remains legally binding and enforceable until an aggrieved party or legal guardian successfully petitions a District Court for its annulment. The statutory limitation period to file for annulment is 5 years (). | | **Objective Defect** | Element 3 (Specific Object) or Element 4 (Lawful Cause) | **Null and Void *Ab Initio*** (*nietig*) | The contract is deemed to have never existed from the outset. No judicial declaration of annulment is strictly required to extinguish obligations, and neither party can demand specific performance under the null agreement. | --- #### 4. Practical Risk Mitigation & Contractual Compliance Guidance 1. **Corporate Authority Due Diligence:** * Verify the signatory's legal identity, the validity of Powers of Attorney, and relevant corporate appointments. * Review the latest Articles of Association to identify limitations of authority and ensure compliance with internal approval thresholds (e.g., Board of Commissioners or General Meeting of Shareholders approvals under the Company Law). 2. **Affirmation of Free Will and Representation:** * Incorporate standard "Representations and Warranties" clauses where each party represents that entry into the agreement is fully voluntary, duly authorized, and free from coercion or undue influence. 3. **Precision in Drafting Scope and Consideration:** * Explicitly define the Scope of Work (SOW), performance specifications, timelines, and payment structures to ensure the contract satisfies the objective requirement of an ascertainable subject matter. 4. **Mandatory Law and Public Policy Checks:** * Ensure that the subject matter complies with mandatory Indonesian statutes, including statutory language requirements (Law No. 24/2009 mandating Indonesian language execution) and mandatory currency regulations (Law No. 7/2011 requiring the use of Indonesian Rupiah for domestic transactions).
Statutory Articles from Catalog: KUHPerdata (Burgerlijk Wetboek)
Four Validity Conditions for Agreements
🇮🇩 Bahasa Indonesia

Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat: 1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu pokok persoalan tertentu (objek tertentu); 4. Suatu sebab yang tidak terlarang (causa yang halal).

🇬🇧 English

In order for an agreement to be legally valid, four conditions must be satisfied: 1. The mutual consent of those who bind themselves; 2. Legal capacity to enter into an obligation; 3. A specific, ascertainable subject matter (certain object); 4. A lawful cause (non-prohibited legal purpose).

Pacta Sunt Servanda and Good Faith Enforcement
🇮🇩 Bahasa Indonesia

(1) Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. (2) Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. (3) Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.

🇬🇧 English

(1) All agreements legally formed shall apply as statutory law for those who make them. (2) They cannot be revoked other than by mutual consent of both parties, or for reasons established by statute. (3) Agreements must be performed in good faith.

Damages and Compensation for Contractual Default
🇮🇩 Bahasa Indonesia

Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.

🇬🇧 English

Compensation for expenses, damages, and interest due to non-fulfillment of an obligation becomes mandatory when the debtor, despite formal notice of default (somasi), remains in breach, or if the performance was subject to a time limit that has expired.

Tortious Liability (Unlawful Act / PMH)
🇮🇩 Bahasa Indonesia

Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.

🇬🇧 English

Every unlawful act that causes damage to another person obliges the party through whose fault the damage occurred to provide compensation for such damage.