Kecerdasan Hukum Indonesia Optimal untuk kepastian hukum perdata, keabsahan kontrak, dan kepatuhan perizinan usaha.
Pembuatan Draf Berbasis AI โ€ข Sesuai Standar OSS-RBA & PP 5/2021
Hukum Korporasi, Investasi & M&A Komparasi: Bahasa Indonesia & English 06 Nov 2026, 01:06 WIB

Article 1320

URL Langsung: https://hukum.live/laws/lookup/article-1320-5/

Analisis Komparasi Berdampingan

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Bahasa Indonesia (Hukum Nasional)

Rujukan Pasal & Analisis Yuridis Resmi

### ANALISIS HUKUM & PASAL TERKAIT (BAHASA INDONESIA) #### 1. Dasar Hukum Positif Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (*Burgerlijk Wetboek voor Indonesiรซ* / ), Buku Ketiga tentang Perikatan (*Van Verbintenissen*), Bab II, Bagian 2, mengatur ketentuan imperatif mengenai syarat-syarat sahnya suatu perjanjian: > **:** > *"Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat:* > 1. *kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;* > 2. *kecakapan untuk membuat suatu perikatan;* > 3. *suatu pokok persoalan tertentu;* > 4. *suatu sebab yang tidak terlarang."* --- #### 2. Klasifikasi dan Anatomi Yuridis Doktrin hukum perdata mengklasifikasikan keempat syarat tersebut ke dalam 2 (dua) kategori utama: ##### A. Syarat Subjektif (Menyangkut Para Pihak / Subjek Hukum) 1. **Kesepakatan Kehendak (*Consensus / Toestemming*) (Angka 1):** * Persesuaian pernyataan kehendak bebas antara para pihak tanpa adanya cacat kehendak (*wilsgebreken*). * Berdasarkan , kesepakatan menjadi tidak sah apabila diberikan karena: * Kekhilafan/Kesesatan (*dwaling*, ); * Paksaan (*dwang*, โ€“1327 ); atau * Penipuan (*bedrog*, ). * Yurisprudensi modern juga mengakui penyalahgunaan keadaan (*misbruik van omstandigheden* / *undue influence*). 2. **Kecakapan Bertindak (*Bekwaamheid*) (Angka 2):** * Kemampuan hukum seseorang untuk melakukan perbuatan hukum yang mengikat dirinya sendiri. * Merujuk dan , subjek hukum yang tidak cakap (*onbekwaam*) adalah: * Anak yang belum dewasa (diselaraskan dengan usia 18 tahun berdasarkan *jo.* tentang Perkawinan sebagaimana diubah oleh , atau tentang Perlindungan Anak); * Orang yang ditaruh di bawah pengampuan (*curatele*); * Orang-orang perempuan yang telah kawin (ketentuan ini telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku oleh Surat Edaran Mahkamah Agung/ dan UU Perkawinan). ##### B. Syarat Objektif (Menyangkut Objek Perjanjian) 3. **Suatu Pokok Persoalan Tertentu (*Bepaald Onderwerp*) (Angka 3):** * Objek perjanjian harus dapat ditentukan jenis dan jumlahnya atau setidak-tidaknya dapat dihitung di kemudian hari ( dan ). Objek tersebut harus berupa barang atau jasa yang berada dalam peredaran perdagangan (*in de handel*). 4. **Sebab yang Tidak Terlarang / Kausa yang Halal (*Geoorloofde Oorzaak*) (Angka 4):** * Maksud atau tujuan dibuatnya perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum (*openbare orde*), atau kesusilaan yang baik (*goede zeden*) ( dan ). --- #### 3. Konsekuensi Yuridis Ketidakpenuhan Syarat * **Pelanggaran Syarat Subjektif (Angka 1 & 2):** Perjanjian berakibat **Dapat Dibatalkan (*Vernietigbaar* / *Voidable*)**. Perjanjian tetap sah dan mengikat para pihak selama belum dibatalkan oleh hakim melalui putusan pengadilan atas gugatan pembatalan (*actie tot vernietiging*) yang diajukan oleh pihak yang tidak cakap atau pihak yang kesepakatannya cacat (tenggang kedaluwarsa 5 tahun sesuai ). * **Pelanggaran Syarat Objektif (Angka 3 & 4):** Perjanjian berakibat **Batal Demi Hukum (*Nietig van rechtswege* / *Null and Void ab initio*)**. Sejak awal perjanjian dianggap tidak pernah ada atau tidak pernah lahir dalam ranah hukum, sehingga tidak ada hak dan kewajiban yang dapat dieksekusi (*unenforceable*), dan para pihak dikembalikan ke keadaan semula (*restitutio in integrum*). --- #### 4. Pedoman Kepatuhan Praktis Kontraktual 1. **Verifikasi Legal Standing dan Kapasitas:** Pastikan penandatangan memiliki kewenangan yang sah (misal: Direksi sesuai AD/ART dan No. 40/2007, persetujuan Dekom/RUPS jika disyaratkan, atau Surat Kuasa Khusus). 2. **Mitigasi Cacat Kehendak:** Dokumentasikan proses negosiasi, risalah rapat, dan cantumkan klausul *entire agreement* serta pernyataan bahwa para pihak menandatangani tanpa paksaan atau tekanan pihak mana pun. 3. **Presisi Deskripsi Objek:** Definisikan ruang lingkup barang, jasa, nilai, jangka waktu, dan spesifikasi secara terukur guna mencegah sengketa mengenai ketidakpastian objek (*ambiguity*). 4. **Harmonisasi Regulasi Sektoral:** Pastikan klausul transaksi tidak melanggar ketentuan perundang-undangan khusus, seperti kewajiban penggunaan Bahasa Indonesia ( *jo.* ) dan kewajiban transaksi mata uang Rupiah ( tentang Mata Uang).
๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง

English Legal Analysis & Statutory Codification

Parallel Comparative Translation & Compliance Notes

### LEGAL ANALYSIS & STATUTORY PROVISIONS (ENGLISH) #### 1. Statutory Basis in Positive Law (*Kitab Undang-Undang Hukum Perdata* / ), Book Three on Obligations (*Van Verbintenissen*), Chapter II, Section 2, sets forth the mandatory prerequisites for the formal validity of an agreement: > **:** > *"In order to be valid, an agreement must satisfy four conditions:* > 1. *the consent of the parties binding themselves;* > 2. *the capacity to form an obligation;* > 3. *a specific subject matter;* > 4. *a lawful cause."* --- #### 2. Classification and Legal Anatomy Indonesian civil law doctrine bifurcates these four requirements into two distinct operational categories: ##### A. Subjective Conditions (Pertaining to the Contracting Parties) 1. **Mutual Consent (*Consensus*) (Item 1):** * The meeting of the minds and the free manifestation of intent between the parties, untainted by defects of consent (*wilsgebreken*). * Pursuant to , consent is invalid if obtained via: * Mistake/Error (*dwaling*, ); * Duress/Coercion (*dwang*, Articles 1323โ€“1327); or * Fraud (*bedrog*, ). * Modern judicial jurisprudence also recognizes abuse of circumstances (*misbruik van omstandigheden* / undue influence). 2. **Legal Capacity (*Bekwaamheid*) (Item 2):** * The legal competence of a party to perform legally binding actions. * Pursuant to Articles 1329 and 1330 of the Indonesian Civil Code, legally incompetent (*onbekwaam*) persons include: * Minors (harmonized to under 18 years of age pursuant to *in conjunction with* Law No. 1/1974 on Marriage as amended by Law No. 16/2019, or Law No. 35/2014 on Child Protection); * Individuals placed under conservatorship/guardianship (*curatele*); * Married women (this restriction was expressly repealed and rendered void by Supreme Court Circular Letter/SEMA No. 3 of 1963 and of the Marriage Law). ##### B. Objective Conditions (Pertaining to the Object of the Contract) 3. **Specific Subject Matter (*Bepaald Onderwerp*) (Item 3):** * The object of the contract must be determinable in terms of type and quantity or capable of future quantification (Articles 1332 and 1333 of the Civil Code). Such object must be commercially traded goods or lawful services (*in de handel*). 4. **Lawful Cause (*Geoorloofde Oorzaak*) (Item 4):** * The underlying consideration, purpose, or objective of the agreement must not run contrary to statutory law, public policy (*openbare orde*), or good morals (*goede zeden*) (Articles 1335 and 1337 of the Civil Code). --- #### 3. Legal Consequences of Non-Compliance * **Breach of Subjective Conditions (Items 1 & 2):** Renders the contract **Voidable (*Dapat Dibatalkan* / *Vernietigbaar*)**. The contract remains legally valid and binding upon the parties until successfully annulled by a competent court upon a motion for rescission (*actie tot vernietiging*) submitted by the aggrieved or legally incapacitated party (subject to a 5-year statute of limitations pursuant to ). * **Breach of Objective Conditions (Items 3 & 4):** Renders the contract **Null and Void *ab initio* (*Batal Demi Hukum* / *Nietig van rechtswege*)**. The contract is legally deemed to have never existed from inception. Consequently, no legal rights or obligations arise, the terms are completely unenforceable, and the parties must be restored to their original pre-contractual position (*restitutio in integrum*). --- #### 4. Practical Contractual Compliance Guidance 1. **Verification of Authority and Capacity:** Verify corporate authority (e.g., Board of Directors' representation rights pursuant to the Articles of Association and the Indonesian Company Law No. 40/2007, necessary Board of Commissioners/GMS approvals, or valid Powers of Attorney). 2. **Mitigating Defects of Consent:** Retain comprehensive audit trails of negotiations and formal minutes, and integrate an "Entire Agreement" clause coupled with representations confirming that the execution is free from duress or misrepresentation. 3. **Precise Object Definition:** Clearly define the deliverables, scope of work, consideration amounts, timelines, and technical metrics to avert disputes grounded in vagueness or indeterminability of the subject matter. 4. **Harmonization with Mandatory Sectoral Laws:** Verify that the agreement complies with mandatory public policies, including the mandatory use of the Indonesian language (Law No. 24/2009 *in conjunction with* Presidential Regulation No. 63/2019) and the mandatory settlement of domestic transactions in Indonesian Rupiah (Law No. 7/2011 on Currency).
Rujukan Pasal Terverifikasi: KUHPerdata (Burgerlijk Wetboek)
Four Validity Conditions for Agreements
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Bahasa Indonesia

Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat: 1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu pokok persoalan tertentu (objek tertentu); 4. Suatu sebab yang tidak terlarang (causa yang halal).

๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง English

In order for an agreement to be legally valid, four conditions must be satisfied: 1. The mutual consent of those who bind themselves; 2. Legal capacity to enter into an obligation; 3. A specific, ascertainable subject matter (certain object); 4. A lawful cause (non-prohibited legal purpose).

Pacta Sunt Servanda and Good Faith Enforcement
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Bahasa Indonesia

(1) Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. (2) Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. (3) Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.

๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง English

(1) All agreements legally formed shall apply as statutory law for those who make them. (2) They cannot be revoked other than by mutual consent of both parties, or for reasons established by statute. (3) Agreements must be performed in good faith.

Damages and Compensation for Contractual Default
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Bahasa Indonesia

Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.

๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง English

Compensation for expenses, damages, and interest due to non-fulfillment of an obligation becomes mandatory when the debtor, despite formal notice of default (somasi), remains in breach, or if the performance was subject to a time limit that has expired.

Tortious Liability (Unlawful Act / PMH)
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Bahasa Indonesia

Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.

๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง English

Every unlawful act that causes damage to another person obliges the party through whose fault the damage occurred to provide compensation for such damage.