Hukum Korporasi, Investasi & M&A
Komparasi: Bahasa Indonesia & English
06 Nov 2026, 01:07 WIB
Undang undang kdrt
Bahasa Komparasi:
English
URL Langsung:
https://hukum.live/laws/lookup/undang-undang-kdrt-4/
Analisis Komparasi Berdampingan
🇮🇩
Bahasa Indonesia (Hukum Nasional)
Rujukan Pasal & Analisis Yuridis Resmi
### ANALISIS HUKUM & PASAL TERKAIT (BAHASA INDONESIA)
Dasar hukum utama yang mengatur mengenai tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia adalah **Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT)**.
---
### I. DEFINISI DAN RUANG LINGKUP SUBJEKTIF
#### 1. Definisi KDRT ( Angka 1 UU PKDRT)
Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
#### 2. Ruang Lingkup Rumah Tangga ( UU PKDRT)
Subjek yang dilindungi dalam lingkup rumah tangga meliputi:
1. Suami, isteri, dan anak;
2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada angka 1 karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
3. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (pekerja rumah tangga).
---
### II. BENTUK-BENTUK TINDAK PIDANA KDRT ( - 9)
UU PKDRT secara tegas melarang setiap orang melakukan kekerasan dalam lingkup rumah tangga dengan klasifikasi sebagai berikut:
* **Kekerasan Fisik ():** Perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
* **Kekerasan Psikis ():** Perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.
* **Kekerasan Seksual ():**
* Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut (*marital rape* diakui secara yuridis).
* Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
* **Penelantaran Rumah Tangga ():**
* Menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan/komitmen ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan.
* Mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah.
---
### III. KETENTUAN PIDANA (SANKSI)
Ketentuan sanksi pidana diatur dalam Bab VIII ( s/d 53):
| Bentuk Kekerasan | Pasal Rujukan | Kualifikasi & Delik | Ancaman Sanksi Pidana |
| :--- | :--- | :--- | :--- |
| **Fisik (Biasa)** | | Delik Biasa | Penjara maks. 5 tahun ATAU denda maks. Rp15.000.000,- |
| **Fisik (Luka Berat)** | | Delik Biasa | Penjara maks. 10 tahun ATAU denda maks. Rp30.000.000,- |
| **Fisik (Kematian Korban)** | | Delik Biasa | Penjara maks. 15 tahun ATAU denda maks. Rp45.000.000,- |
| **Fisik Ringan** *(oleh suami-istri tanpa halangan kerja)* | | **Delik Aduan** | Penjara maks. 4 bulan ATAU denda maks. Rp5.000.000,- |
| **Psikis (Biasa)** | | Delik Biasa | Penjara maks. 3 tahun ATAU denda maks. Rp9.000.000,- |
| **Psikis Ringan** | | **Delik Aduan** | Penjara maks. 4 bulan ATAU denda maks. Rp3.000.000,- |
| **Kekerasan Seksual ()** | | Delik Biasa | Penjara maks. 12 tahun ATAU denda maks. Rp36.000.000,- |
| **Penelantaran Rumah Tangga** | | Delik Biasa | Penjara maks. 3 tahun ATAU denda maks. Rp15.000.000,- |
*Catatan Prosedural:* Penggunaan delik aduan (*klachtdelict*) terbatas pada tindak pidana kekerasan fisik ringan dan psikis ringan yang dilakukan antar-suami-istri. Tindak pidana kekerasan fisik yang menimbulkan luka/halangan beraktivitas, kekerasan seksual, dan penelantaran adalah **delik biasa** (aparat penegak hukum wajib memproses tanpa bergantung pada pencabutan laporan).
---
### IV. HAK KORBAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM
1. **Hak Korban ():** Korban berhak memperoleh perlindungan dari keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan; pelayanan kesehatan; penanganan khusus kerahasiaan korban; dan pendampingan oleh pekerja sosial serta bantuan hukum.
2. **Perintah Perlindungan (Protection Order):**
* **Perlindungan Sementara oleh Kepolisian (–20):** Diberikan dalam waktu 1 x 24 jam sejak laporan diterima, berlaku selama 30 hari.
* **Penetapan Perintah Perlindungan oleh Pengadilan (–38):** Dikeluarkan oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam jangka waktu paling lambat 7 hari sejak permohonan diajukan, berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang.
---
### V. PANDUAN KEPATUHAN & TINDAKAN HUKUM PRAKTIS
1. **Pelaporan:** Korban, keluarga, atau saksi dapat melaporkan dugaan KDRT ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada Kepolisian Resor (Polres) setempat.
2. **Alat Bukti:** Mengamankan *Visum et Repertum* fisik atau *Visum et Repertum Psychiatricum* sesegera mungkin sebagai bukti primer berdasarkan KUHAP jo. UU PKDRT (keterangan saksi korban saja ditambah 1 alat bukti lain sudah cukup untuk menjatuhkan pidana).
🇬🇧
English Legal Analysis & Statutory Codification
Parallel Comparative Translation & Compliance Notes
### LEGAL ANALYSIS & STATUTORY PROVISIONS (ENGLISH)
The primary governing statutory framework addressing domestic violence offenses in Indonesia is **Law of the Republic of Indonesia Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence (*Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga* / UU PKDRT)**.
---
### I. DEFINITIONS AND SUBJECTIVE SCOPE
#### 1. Definition of Domestic Violence ( Point 1)
Domestic Violence is any act committed against a person, particularly a woman, resulting in physical, sexual, or psychological misery or suffering, and/or household abandonment/neglect, including threats to commit acts, coercion, or unlawful deprivation of liberty within the scope of the household.
#### 2. Scope of the Household ()
Persons protected under the domestic scope include:
1. Husbands, wives, and children;
2. Individuals with familial relationships with the aforementioned persons by blood, marriage, wet-nursing, fosterage, and guardianship, who permanently reside within the household; and/or
3. Individuals who work as domestic helpers and reside within the household (domestic workers).
---
### II. CLASSIFICATION OF DOMESTIC OFFENSES (ARTICLES 5 - 9)
strictly prohibits any person from perpetrating violence within the household scope, classified into:
* **Physical Violence ():** Acts resulting in physical pain, illness, or serious bodily injury.
* **Psychological Violence ():** Acts causing fear, loss of self-confidence, inability to act, feelings of helplessness, and/or severe psychological suffering.
* **Sexual Violence ():**
* Coerced sexual intercourse committed against an individual residing within the household (*marital rape* is explicitly recognized under statutory law).
* Coerced sexual intercourse against a member of the household with a third party for commercial or specific purposes.
* **Household Abandonment/Neglect ():**
* Abandoning/neglecting an individual within the household whom the perpetrator is legally or contractually obligated to provide sustenance, care, or maintenance.
* Causing economic dependency by restricting and/or prohibiting the individual from engaging in gainful employment inside or outside the household.
---
### III. PENAL SANCTIONS
Criminal penalties are codified under Chapter VIII (Articles 44 through 53):
| Offense Type | Governing Article | Offense Nature | Statutory Penalties |
| :--- | :--- | :--- | :--- |
| **Physical (Standard)** | (1) | Ordinary Offense | Imprisonment max. 5 years OR fine max. IDR 15,000,000 |
| **Physical (Grievous Bodily Harm)** | (2) | Ordinary Offense | Imprisonment max. 10 years OR fine max. IDR 30,000,000 |
| **Physical (Resulting in Death)** | (3) | Ordinary Offense | Imprisonment max. 15 years OR fine max. IDR 45,000,000 |
| **Minor Physical** *(spousal, without work disruption)* | (4) | **Complaint Offense** | Imprisonment max. 4 months OR fine max. IDR 5,000,000 |
| **Psychological (Standard)** | (1) | Ordinary Offense | Imprisonment max. 3 years OR fine max. IDR 9,000,000 |
| **Minor Psychological** | (2) | **Complaint Offense** | Imprisonment max. 4 months OR fine max. IDR 3,000,000 |
| **Sexual Violence ((a))** | | Ordinary Offense | Imprisonment max. 12 years OR fine max. IDR 36,000,000 |
| **Household Abandonment** | | Ordinary Offense | Imprisonment max. 3 years OR fine max. IDR 15,000,000 |
*Procedural Note:* The complaint-based doctrine (*delik aduan*) applies strictly to minor physical and minor psychological violence between spouses. Physical offenses causing injury or disruption of daily activities, sexual violence, and abandonment are **ordinary offenses** (*delik biasa*), obligating law enforcement to prosecute regardless of complainant reconciliation or withdrawal.
---
### IV. VICTIM RIGHTS AND STATUTORY PROTECTION ORDERS
1. **Victim Rights ():** Victims possess the statutory right to obtain protection from family, legal counsel, social welfare institutions, the police, the prosecution service, and the courts; medical care; confidentiality of identity; and social worker assistance alongside legal aid.
2. **Protection Orders:**
* **Interim Protection Order by the Police (Articles 16–20):** Must be issued within 24 hours of report receipt, valid for up to 30 days.
* **Court Protection Order (Articles 21–38):** Issued by the Chief Judge of the District Court (*Pengadilan Negeri*) within 7 days of application, valid for up to 1 (one) year and subject to judicial extension.
---
### V. PROCEDURAL AND ACTIONABLE LEGAL GUIDANCE
1. **Filing Reports:** Victims, relatives, or designated legal proxies can file formal complaints directly with the Women and Children Protection Unit (*Unit Perlindungan Perempuan dan Anak / PPA*) at the competent District Police Station (*Kepolisian Resor / Polres*).
2. **Evidentiary Threshold:** Secure an immediate physical *Visum et Repertum* or a *Visum et Repertum Psychiatricum*. Under of the PKDRT Law (read alongside of the Indonesian Criminal Procedure Code / KUHAP), the testimony of the victim witness combined with one other item of corroborating evidence is legally sufficient to secure a conviction.
Pencarian Terkait dalam Kategori Ini
EN
Pasal 378 dan 372 KUHP Tindak Pidana Penipuan dan Penggelapan
06 Nov 2026
Lihat
EN
Pasal 378 dan 372 KUHP Tindak Pidana Penipuan dan Penggelapan
06 Nov 2026
Lihat
EN
Law No. 13 of 2003
06 Nov 2026
Lihat
EN
Law No. 13 of 2003
06 Nov 2026
Lihat
EN
can a shareholder also be an employee
06 Nov 2026
Lihat